
Hahaha... Kalo inget Drama ini. jadi, inget dulu pas praktek B.Indonesia. Drama terkocak + ricuh.. Gak kerasa yah, waktu semakin cepat. serasa baru Drama kemaren. tp ternyata udah hampir setahun nie drama. Gak nyangka banget. Benerannn
Judul Naskah Drama: Mati 1, Mati Semua.
Penulis Naskah Drama: Reiptig On the Sampding
Kategori: Naskah Drama Komedi yang tidak lucu (Maksain)
Naskah Drama ini dimainkan oleh 6 orang. 4 wanita, 2 Pria. Menjadi 7 orang jika ditambah dengan Narrator.
Pemeran, berdasarkan pemunculan:
- Narrator : Hilda
- Lumilumut : Wiwid
- Nenek Peot : Tiara
- Trotoar : Gaby
- Tukinem : Aulia
- Pemeran Pengganti : Vera
- WASIT : Dwi
NARRATOR:
Ini adalah legenda rakyat yang diceritakan turun-temurun, dari mulut ke mulut tentang kisah cinta abadi antara sepasang manusia.
Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di
(Narrator berhenti sejenak dan menggaruk-garukkan kepalanya) Waduh,,,
Mohon maaf, saya salah membaca naskah.
Inilah naskah yang sebenarnya. Hhe…
Di sebuah tanah asing, seorang putri terdampar setelah diusir dari kerajaannya. Ia ditolong oleh seorang laki-laki dan dirawat di rumahnya. Beberapa hari kemudian, putri itu akhirnya tersadar dari pingsannya.
Lumilumut membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ketika kesadarannya telah pulih, ia segera waspada dan beranjak bangun namun rasa nyeri di pinggangnya membuat ia harus kembali berbaring.
Setelah rasa nyeri di pinggangnya hilang, ia memandang sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih.
Pintu kamar terbuka, Nenek Peot masuk dengan tongkat di tangannya membawa semangkok obat. Ia masuk sambil meraba-raba dengan tongkatnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana Lumilumut berbaring. Tongkat kayunya meliuk-liuk ke
Nenek Peot:
Ih.. apa ini eh... Keras banget...
(menusuk-nusuk Kepala Lumilumut dengan perlahan dan penasaran)
Lumilumut:
Woi sakit,, ini kepala tau!
(bangun dan duduk di kasur)
Nenek Peot:
(Terkejut dan mundur beberapa langkah)
Oh, kamu sudah sadar. Maaf saya buta, jadi tidak tahu kalau kamu sudah sadar.
Lumilumut:
Dimana ini?
Nenek Peot:
(Duduk di samping Lumilumut)
Ini di rumah saya.
(menyodorkan mangkok berisi obat kepada Lumilumut)
Minumlah dulu obat ini, biar kamu cepat sembuh
NARATOR :
Lumilumut menerima mangkok berisi obat itu dan meminumnya. Rasanya sangat pahit sehingga ia hampir muntah. Namun ia memaksakan diri menghabiskannya sedikit demi sedikit.
(
Nenek Peot:
Siapakah namamu wahai wanita?
Lumilumut:
Namaku Lumilumut. Aku biasa dipanggil Lumut.
(
Nenek Peot:
Ooh, nama yang bagus. Kalau saya biasa dipanggil...
(berdiri, menari berkeliling
Nenek Peot
Lumilumut:
Anda seorang tabib?
Nenek Peot:
(Kembali duduk di kasur sambil mengelus-ngelus pipinya.)
(
Ahh.. semenjak saya buta, saya menjadi seorang ahli massage alias tukang pijit. Tapi sebelum itu saya pernah belajar ilmu pengobatan . . .
Sayang semenjak saya buta, saya sering salah meramu obat sehingga banyak pasien saya yang mati.
Lumilumut:
(Menyemburkan obat di mulutnya)
Pfffffffffffff!!!
Mangkok di tangan Lumilumut terlepas. Dengan terbatuk-batuk ia berusaha memuntahkan obat yang diminumnya.
Nenek Peot:
(
Jangan khawatir! Sebab bukan saya yang meramu obat itu. Saya membelinya di apotik dekat terminal.
Lumilumut:
Oooh, maaf, saya kira kamu yang membuatnya....
Nenek Peot:
(Masih
Tidak apa-apa. Itu juga obat kadaluarsa yang saya beli setengah harga.
Lumilumut:
Hoeeekkk!!
(Memasukkan jarinya sedalam mungkin ke dalam kerongkongannya, memaksa diri memuntahkan sisa-sisa obat yang terlanjur ditelan)
Nenek Peot:
(Berpose narsis)
Saya memang tabib yang hebat. HUAHAHAHAHA...!!!
Lumilumut:
Eh, kalau boleh tau, kamu yang sudah tolong saya dan membawa saya kesini?
Nenek Peot :
Bukan! Bukan saya. Saya
Lumilumut:
Lalu, siapakah gerangan orang tersebut yang telah menolong saya?
NARATOR :
Di depan pintu muncul Trotoar.
Trotoar:
(Menunjuk dadanya)
Itu aku!
Lumilumut:
(histeris)
Aaahh.. Suleeee...
Trotoar:
Bukan! Aku bukan Sule!
Lumilumut:
Lalu, siapa anda?
Trotoar:
(Pose)
I’m Batman!
Eh,, Bukan!
Aku adalah...
(menari berkeliling
Superman!!!
Nenek Peot:
Aneh! (mengetok kepala Trotoar) Kalau kamu putri salju kenapa kamu tinggal dengan saya, bukannya Superman tinggal dengan Nenek dan Kakeknya. Cari nama lain ajah. Yang lebih bagusan dikit
Trotoar:
Baiklah!
Aku adalah...
(menari berkeliling
Romeo!!!
Nenek Peot:
ough ya. Ini drama tentang apa sich? Kok jadi GJ begini. (Menanyakan ke para penonton)
Trotoar:
Baiklah!
Sebenarnya aku adalah...
(menari berkeliling
Tro... Toooooooar!
Nenek Peot:
Perkenalkan, ini Trotoar. Dialah yang menyelamatkanmu dan membawamu ke sini.
Lumilumut:
Oh, terima kasih. Aku tak dapat membalas kebaikanmu.
Trotoar:
Akh,, nggak perlu. Saya
Lumulumut:
Ih.. Masa sich! Pantes badanku terasa sakit-sakit.
NARATOR:
Tiba-tiba terdengar suara tawa. Seorang Putri Kerajaan Utara bernama Tukinem masuk.
Tukinem:
Hahahahaha...
Trotoar:
Sapa kamu? Ketawa-ketawa di depan rumah orang? Ga sopan tau ga. Apa kamu tidak di ajari etika….
Tukinem:
Aku adalah...
(menari berkeliling
Tuuuu... Kinemm...!!!
Dan aku adalah Putri dari Kerajaan Utara.
Kami mencari seorang gadis bernama Lumilumut. Kami tahu dia berada di sini.
Trotoar:
Nggak ada nama Lumilumut di sini!
Lumilumut:
Saya Lumilumut. Kamu ada perlu apa dengan saya?
Nenek Peot:
Iiiiihh... Bego banget si lho. Malah ngasih tau nama lho. (Menempeleng kepala Lumilumut)
Tukinem:
Anak buah! Seret wanita itu kemari!
Trotoar:
Anak buah – anak buah? Perasaan.. kamu kesini hanya sendiri.
Tukinem:
Oh, iya ya, lupa, tong hilapnya.
Lumut! Kau harus ikut denganku, kau harus mati!
Trotoar:
(Menghadang)
Tunggu!
Dia bukan Lumilumut!
Namanya adalah Wawu!
Tukinem:
Hahaha…. Jangan kira saya Bego ya? Kalau dia Wawu dia harusnya ada di empang, ngelayani para pemancing.
Minggir! Atau kau akan menjadi mayat!
Trotoar:
Baiklah!
Silahkan. Ayo jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri.
(mempersilahkan para tentara (Tukinem sendiri) untuk menangkap Lumilumut)
Lumilumut:
Ih, ih ih Bagaimana kamu ini. Masa ngebiarin dia membawa saya.
Trotoar:
Kalau begitu kau harus melangkahi mayatku!
Tukinem:
Rupanya kau punya nyali juga anak muda.
Sebutkan account Facebookmu biar aku tahu siapa yang kubunuh!
Trotoar:
Cih, aku tak sudi menerima permintaan pertemanan dengan orang seperti kau!
Tukinem:
Rupanya kau memang sudah bosan hidup! Bersiaplah menerima kematianmu!
(bersiap bertempur)
Trotoar:
Tunggu!
Tukinem:
Trotoar:
Update status dulu di FB hehehe.
(mengambil HP dan update status)
Sedang bertarung dengan @Tukinem, putri Kerajaan Utara.
Oke, kelar!
Tukinem:
Sekarang terimalah kematianmu!
(bersiap menyerang)
WASIT :
Tunggu!
(memanggil Trotoar dan Tukinem mendekat. Menjelaskan dengan
Dilarang memukul wajah, dilarang memukul di bawah perut, belakang kepala, kemaluan dan punggung.
Paham?
Okay, Fight!
(Trotoar dan Tukinem memasang kuda-kuda tempur)
Tukinem :
Hiaat…..
WASIT :
Tunggu !
Anda telah keluar garis.
(memegang tangan Trotoar)
Pemenangnya adalah Trotoar.
Tukinem :
Lah. . .
Ini khan bukan sumo. . ..
WASIT :
Anda terkena kartu kuning. Karena melawan wasit. Hahahaha… (bergaya sinchan)
Trotoar :
Hahai. . .
Kaciann….
NARATOR :
Dan Trotoar beserta Tukinem memulai pertempuran lagi.
WASIT :
Kalian siap…..
1… 2… 3…. 4… 5… 6… 7… 8… 9… dan seterusnya. . .
Trotoar:
Waduh,,, ampe berapa tuh. . .
Tukinem :
Kapan mulainya nie? (Duduk jongkok dengan wajah kesal)
WASIT :
Mulai. . .
NARATOR :
Karena sangking lamanya WASIT berhitung, membuat Trotoar dan Tukinem tertidur.
WASIT :
(Mengguyur keduanya. . .)
Bangun. . . Mulai…
(Tukinem dan Trotoar kaget terbangun, dan memukul mukuli wasit.)
WASIT :
Aduh… aduh….
Kok saya yang di pukuli…
Trotoar dan Tukinem :
Ya.. Maap..
WASIT :
Ok…. Sekarang Mulai !!!
Trotoar:
Nek, cepat bawa Lumut pergi dari sini.
Nenek Peot:
Ayo kita pergi. Kau tunjukkan jalan.
(Lumulumut segera membawa Nenek pergi).
Tukinem:
Sekarang tinggal kita berdua. Menyerahlah.
Trotoar:
Tidak akan pernah!
Tukinem:
Kalau begitu matilah!
Hiaaat...
(Tukinem menyerang Trotoar)
Trotoar:
Tunggu!
Tukinem:
Ih, bagaimana kamu ini dari tadi tunggu-tunggu terus!
Trotoar:
Saya
(berteriak memanggil pemeran pengganti)
Pemeran pengantiiiii...
(Pemeran pengganti masuk dan mengambil posisi tempur)
Tukinem:
Ah, Jadi udah kaya syuting beneran ajah. Tapi, Masa pemeran pengganti saya nda ada?
Trotoar:
(menghibur Tukinem)
Ia begitu lah Nem. Itu kalau jadi orang baik,, kalau jadi orang jahat mah ga bakalan ada pemeran pengganti . Hahahaha….
Tukinem:
Sudah! Ayo selesaikan pertarungan ini!
(Adegan laga)
NARATOR :
Setelah pertarungan sengit, Tukinem berhasil menjatuhkan Pemeran Pengganti dan menodongnya.
Tukinem:
Sekarang pergilah ke neraka!
(bersiap membunuh pemeran pengganti)
Trotoar:
Tunggu!
Tukinem:
Alah, Udah. Sekarang ga ada kata-kata tunggu lagi?
Trotoar:
Sabar...
(Trotoar menggantikan posisi pemeran pengganti)
Tukinem:
Sekarang pergilah kau ke neraka!
(bersiap membunuh Trotoar)
Trotoar:
Tunggu!
Tukinem:
(berhenti, berkacak pinggang dengan sangat kesal, menarik napas panjang, geleng-geleng kepala)
Apa-apaan ini. So sesat.. jadi sesat tau ga.
(menenangkan dirinya)
Saya yang akan menang sekarang? Bilang ja.
Trotoar:
Begini, saya
Tukinem:
Iya, ya. Sekarang bagaimana dong?
Trotoar:
Yaaaa, berarti mesti ada yg mati. Yang pasti bukan saya.
Tukinem:
Ha? Memang mesti begitu ya?
Trotoar:
Yah begitu di naskah, mo bagaimana lagi.
Tukinem:
(pasrah)
Tidak apa-apa deh.
(Trotoar berdiri lalu membunuh Tukinem. Tukinem terkapar meregang nyawa)
Trotoar:
Wahai Putri Kerajaan Utara. Kau memang hebat, tapi sayang, kemampuanmu tak dapat menandingi golok saktiku! Alias OON BGT gitu deh.. hahahaha….
Tukinem:
(Bangun) Heueuh. Karepmu lah. (Tidur lagi)
Trotoar:
Hahaha... akulah Trotoar, pendekar terhebat di tanah ini!
(Lumilumut dan Nenek Peot masuk)
Lumilumut:
Trotoar... untunglah kau selamat.
Trotoar:
Lumut... sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggumu
(Trotoar berlari ke sudut panggung, Trotoar ke sudut panggung yang satunya lagi)
(GAYA DRAMA MURAHAN ON)
Lumilumut:
Oh... Trotoar...
Trotoar:
Oh... Lumut...
(Dialog diulang-ulang selama Trotoar dan Lumilumut saling mendekat)
Trotoar:
Oh Lumut... ada yang ingin aku katakan padamu...
Lumilumut:
Katakanlah wahai Trotoar pahlawanku... katakanlah...
Trotoar:
Sebenarnya... aku...
Lumilumut:
Katakanlah... Katakan... jangan ragu...
Trotoar:
Sebenarnya... aku... mencintai....
Lumilumut:
Oh... aku juga mencintaimu
(bergerak memeluk Trotoar)
Trotoar:
(menghindar dari pelukan Lumilumut)
Nenek Peot!
(Trotoar dan Nenek Peot saling berpegangan tangan dengan mesra.)
Lumilumut:
(menangis, kemudian mendekati mayat Tukinem, mengambil pedangnya)
(bersuara lirih)
Kalo memang nda ada yg cinta dengan ku, Lebih baik saya mati!
(Trotoar dan Nenek Peot tidak mempedulikan)
(senyap)
Lumilumut:
(bersuara lebih keras)
Kalo memang nda ada yg cinta dengan ku, Lebih baik saya mati!
(Trotoar dan Nenek Peot tidak mempedulikan)
(senyap)
Lumilumut:
(Berteriak keras)
Woi, w mo bunuh diri!
(Trotoar kaget dan bergegas mencegah Lumilumut bunuh diri, namun terlambat, Lumilumut terlanjur mati duluan)
Nenek Peot:
Yach, Mati dia?
Trotoar:
Ioh. . .
Nenek Peot:
Yah
Trotoar:
Aduh, bagaimana dong ini?
ceritanya jadi berantakan. Yo wesh lah…. Saya mati juga. (Mengambil pedang yang ada di tangan Lumilumut dan Berteriak sambil menancapkannya ke perutnya)
Selamat tinggal semua.. daa….
Nenek Peot :
Waduhh.. masa saya di tinggal sendirian… mati juga lah.. (Mengambil pedang yang ada di tangan Trotoar dan Berteriak sambil menancapkannya ke perutnya) aw…..
WASIT :
(Masuk dengan pluitannya) Yach. . . pada mati sich…. Ikutan lah…
NARRATOR:
Demikianlah akhir dari cerita ini. Mati 1, Mati Semua. Semua bunuh diri, saya pun ikutan bunuh diri. Eh.. bentar… (bingung) Nanti sapa yang ngakhirin ini cerita… sudahlah.. dadah semua….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar